
Presiden Susi is in da house yo...!
Kemarin media – media dan banyak tokoh di Indonesia meributkan tentang pidato Presiden SBY di BEI yang banyak dicampuri istilah – istilah dalam bahasa Inggris. Hampir semua harian dan bahkan tokoh – tokoh sosial politik yang saya follow di twitter saya membahas tentang pidato SBY tersebut. Sebenarnya saat membaca berita tentang pidato itu di koran, jujur saja saya merasa aneh. Aneh, kenapa sebuah pidato yang diselipi istilah – istilah dalam bahasa Inggris bisa menggelitik dan ‘menghibur’ para jurnalis. Setelah saya membaca artikel secara lengkap, ternyata SBY menggunakan istilah bahasa Inggris itu sebagai penekanan atau penjelas dari istilah bahasa Indonesia yang diucapkan sebelum istilah bahasa Inggris-nya. Sampai di situ, saya mengerti kenapa jurnalis merasa juga merasa aneh dengan pidato tersebut. Tapi, perasaan aneh saya tetap tidak hilang, karena saya merasa bahwa berita itu bukanlah suatu hal yang penting atau mendesak untuk diberitakan dan dimasukkan di halaman depan sebuah media. Saya melihat berita ini sama saja seperti sebuah berita infotainment yang seakan – akan ingin memojokkan seseorang.
Harap diingat saya bukan pendukung SBY, saya bahkan banyak menentang kebijakan – kebijakan SBY. Hanya saja, saya merasa media tidak memberikan sebuah ulasan yang berasal dari perspektif yang netral tentang pidato SBY tersebut. Selama istilah bahasa Inggris itu tidak mengganggu atau menghilangkan substansi pidato, saya rasa tidak ada salahnya. Meskipun penggunaan yang tidak tepat dan aneh juga tetap mengundang rasa heran dan tawa saya ketika membacanya, tetapi itu bukan suatu hal yang cukup penting untuk dipermasalahkan bahkan untuk dijadikan bahan berita. Bukankah lebih baik membahas isi pidato itu sendiri dari pada cuma membahas tentang penggunaan istilah?
Hal yang terlalu sepele seperti ini menurut saya cukup pantas jika dibahas dalam sebuah forum atau media komunikasi non-formal seperti twitter, forum, facebook dll, tetapi tidak cocok kalau dimasukkan dalam pemberitaan resmi sebuah harian tingkat nasional, rasanya seperti menonton infotainment saja. Sekali lagi, saya ini bukan pendukung SBY, malah cenderung anti SBY, Demokrat dan kroni – kroninya. Saya hanya merasa kesal dengan cara pemberitaan media akhir – akhir ini. Mulai dari pembahasan Timnas Sepakbola yang berlebihan, ulasan kasus – kasus besar yang hangat – hangat tai ayam, sampai masalah sepele seperti ini. Pada akhirnya media yang seharusnya memberikan informasi kepada masyarakat, menjaga dan menggiring pemerintahan supaya tetap berada di jalur yang benar hanya dijadikan alat untuk menjaga kepentingan dan propaganda politik kalangan – kalangan berduit. Fuh.





