Sekitar pertengahan tahun lalu, saya ‘berkenalan’ dengan suara tiupan seorang pemain saksofon asal Norwegia, Jan Garbarek. Dari begitu banyak album yang dimilikinya (discographynya dimulai dari tahun 1968 sampai sekarang baik itu sebagai musisi pendamping maupun musisi utama), baru sedikit yang bisa dan sempat saya dengarkan, dan dari yang sedikit itu ada dua yang meninggalkan kesan cukup mendalam, yaitu ‘Legend of the Seven Dreams’ dan ‘Ragas and Sagas’. Di postingan ini saya ingin membahas kedua album favorit saya tersebut.

Legend of the Seven Dreams
Yang pertama, ‘Legend of the Seven Dreams’ yang dirilis tahun 1988 dibawah ECM Labels. Dalam album ini Jan Garbarek bekerja sama dengan Rainer Brüninghaus (electronic keyboards), Eberhard Weber (bass) dan Naná Vasconcelos (percussion). ‘Legend of the Seven Dreams’ ini sangat kental nuansa Norwegia-nya karena Jan Garbarek memasukkan banyak suara dari lagu khas orang Sami (suku asli Norwegia bagian utara). Tiap lagu di album ini rasanya bisa membawa saya membayangkan padang rumput, gunung, sungai dan tebing di dataran tinggi Eropa bagian utara. ‘He Comes From the North’, track sepanjang 13 menit 27 detik menjadi track pembuka. Jan Garbarek memperdengarkan melodi yang dimainkan berdasarkan joik (salah satu gaya musik tradisional suku Sami) dalam Track pertama yang menurut saya benar – benar track unggulan dalam album ini. Selain ‘He Comes from the North’ track lain yang cukup menonjol adalah ‘Brother Wind’, ‘It’s Name is Secret Road’, ‘Send Word’ dan ‘Voy Cantando’. ‘It’s Name is Secret Road’ adalah sebuah track interlude berdurasi 1 menit 48 detik yang berisikan suara seruling dengan perubahan secara electronik, sedangkan dalam track ‘Send Word’, Jan Garbarek memperdengarkan suara saksofon yang sangat menyayat dan menurut saya istimewa. ‘Achiuri, the Song Man’ berisikan suara saksofon dan perkusi yang terlalu repetitif sehingga cukup membosankan setelah beberapa menit, ini menjadi track yang paling mengecewakan dalam album ini. Selain lagu – lagu tersebut, lagu lain di album ini tidak terlalu memiliki nilai yang istimewa maupun mengecewakan. Secara keseluruhan, mungkin bagi kebanyakan orang, album ini cukup membosankan, tapi saya masih bisa menjadikannya sebagai salah satu album ‘rutin’ saya.

Ragas & Sagas
Yang kedua, ‘Ragas and Sagas’ yang dirilis tahun 1992. Menurut saya pribadi, album ini adalah salah satu album terbaik dari Jan Garbarek (dari sedikit album yang sudah saya dengarkan). Kali ini Jan Garbarek berkolaborasi dengan Ustaad Fateh Ali Khan (vokal), dari grup Patiala Gharana yg berasal dari Pakistan. Ustaad Fateh Ali Khan itu bukan Nusrat Fateh Ali Khan (biar tidak salah orang, coba Googling aja namanya). Selain itu ada juga Shaukat Hussain (tabla), Nazim Ali Khan (sarangi), Deepika Thathaal (vokal) dan Manu Katché (drums). Untuk album ini saya tidak bisa berkomentar banyak karena album ini sangat sangat bagus sekali (berlebihan sih, tapi itu kan pendapat saya, hehe). Suara tenor dan soprano saksofon milik Jan Garbarek bisa berpadu dengan apik terhadap vokal Ustad Fateh Ali Khan dan Deepika Thathaal, juga dengan suara alat musik tabla dan sarangi. Masing – masing instrumen dan vokal mempunyai porsi masing – masing yang sangat pas dan nyaris sempurna. Nyaris, karena masih ada kekurangan, seperti dalam track ‘Raga II’ kadang terdengar suara saksofon melengking begitu keras dan agak menutupi suara yang lain. Oh iya, album ini terdiri dari 5 lagu saja yaitu ‘Raga I’, ‘Saga’, ‘Raga II’, ‘Raga III’ dan ‘Raga IV’. Tiga lagu terakhir memiliki durasi masing – masing lebih dari 10 menit. Dalam album ini tidak ada lagu unggulan atau favorit buat saya, karena kelima-lima nya memiliki nilai yang sama. Istimewa!
Sekian (sok) review saya kali ini, sampai jumpa di postingan berikutnya!





Mati. Ini review cadas bener. Musik kelas tinggi!
Karena aku ga paham Jan Garbarek, aku ngomentarin tulisan kamu aja ya.
Aku masih ga nangkep JB ini siapa. Tapi pembahasan musiknya keren dan detil.
Wee.. JB itu siapa funs? Jastin Biber? Hehehee.. Coba deh donlot yg Ragas and Sagas.. Pasti kamu gak suka. *loh?* Hahahahaa.